APAKAH JIWA DAN RUH ITU SATU?
Banyak yang mengatakan bahwa jiwa dan ruh adalah satu. Namun, ada pula yang membedakan keduanya. Lantas, mana yang benar?
Menurut sebagian ahli hadits, fiqih dan tasawuf, ruh itu bukanlah jiwa. Muqatil bin Sulaiman berkata, “Manusia itu memiliki kehidupan, ruh dan jiwa. Jika ia tidur, maka jiwanya keluar dan ia bisa memikirkan segala hal, namun tidak meninggalkan badan. Yang keluar darinya seperti benang yang panjang dan memiliki sinar, sehingga orang yang bersangkutan bermimpi dengan jiwa yang keluar darinya. Sementara kehidupan dan ruh tetap berada di dalam badan, membolak-balik dan bernafas. Jika dia bergerak, maka jiwa itu secepat kilat kembali kepadanya, lebih cepat dari kedipan mata. Jika Allah hendak mematikannya di dalam tidur, maka Dia memegang jiwa yang keluar itu.”
Lebih lanjut Muqatil mengatakan, “Jika seseorang tidur, maka jiwanya keluar dan naik ke atas. Jika dia bermimpi, maka jiwa itu kembali dan mengabarkan keapda ruh. Karena ruh ini diberitahu, maka dia pun mengetahuinya bahwa dia telah bermimpi begini dan begitu.”
Abu Abdullah bin Mandah berkata, “Kemudian meraka saling berbeda pendapat tentang makrifat ruh dan jiwa. Sebagian orang berpendapat, jiwa itu bersifat liar dan memiliki unsur api dan ruhani. Yang lain berpendapat, ruh itu bersifat kemanusiaan, yang dengan tabiat inilah manusia diuji.”
Golongan lain dari ahli atsar berkata, “Ruh itu bukan jiwa, dan jiwa bukan ruh. Tegaknya jiwa dengan ruh. Jiwa merupakan gambaran hamba (manusia), sedangkan hawa nafsu, syahwat dsan ujian merupakan adonan di dalam jiwa.”
Jiwa adalah unsur batiniah manusia yang tidak dapat dilihat. Atau, ada yang mengartikannya sebagai “badan halus” manusia. Sementara tubuh kita adalah badan kasarnya. Jiwa manusia meliputi beberapa unsure: pikiran, emosi (perasaan) dan kehendak. Dengan pikirannya, manusia dapat berpikir. Dengan perasaannya manusia dapat mengasihi dan dengan kehendaknya, manusia dapat memilih.