Senin, 27 Juni 2011

APAKAH JIWA DAN RUH ITU SATU?

APAKAH JIWA DAN RUH ITU SATU?
Banyak yang mengatakan bahwa jiwa dan ruh adalah satu. Namun, ada pula yang membedakan keduanya. Lantas, mana yang benar?

Menurut sebagian ahli hadits, fiqih dan tasawuf, ruh itu bukanlah jiwa. Muqatil bin Sulaiman berkata, “Manusia itu memiliki kehidupan, ruh dan jiwa. Jika ia tidur, maka jiwanya keluar dan ia bisa memikirkan segala hal, namun tidak meninggalkan badan. Yang keluar darinya seperti benang yang panjang dan memiliki sinar, sehingga orang yang bersangkutan bermimpi dengan jiwa yang keluar darinya. Sementara kehidupan dan ruh tetap berada di dalam badan, membolak-balik dan bernafas. Jika dia bergerak, maka jiwa itu secepat kilat kembali kepadanya, lebih cepat dari kedipan mata. Jika Allah hendak mematikannya di dalam tidur, maka Dia memegang jiwa yang keluar itu.”
Lebih lanjut Muqatil mengatakan, “Jika seseorang tidur, maka jiwanya keluar dan naik ke atas. Jika dia bermimpi, maka jiwa itu kembali dan mengabarkan keapda ruh. Karena ruh ini diberitahu, maka dia pun mengetahuinya bahwa dia telah bermimpi begini dan begitu.”
Abu Abdullah bin Mandah berkata, “Kemudian meraka saling berbeda pendapat tentang makrifat ruh dan jiwa. Sebagian orang berpendapat, jiwa itu bersifat liar dan memiliki unsur api dan ruhani. Yang lain berpendapat, ruh itu bersifat kemanusiaan, yang dengan tabiat inilah manusia diuji.”
Golongan lain dari ahli atsar berkata, “Ruh itu bukan jiwa, dan jiwa bukan ruh. Tegaknya jiwa dengan ruh. Jiwa merupakan gambaran hamba (manusia), sedangkan hawa nafsu, syahwat dsan ujian merupakan adonan di dalam jiwa.”
Jiwa adalah unsur batiniah manusia yang tidak dapat dilihat. Atau, ada yang mengartikannya sebagai “badan halus” manusia. Sementara tubuh kita adalah badan kasarnya. Jiwa manusia meliputi beberapa unsure: pikiran, emosi (perasaan) dan kehendak. Dengan pikirannya, manusia dapat berpikir. Dengan perasaannya manusia dapat mengasihi dan dengan kehendaknya, manusia dapat memilih.

Jiwa memiliki indra penglihatan dan pendengaran, yang disebut juga indera jiwa atau indera batin. Dari situlah setan (dan jin) memberikan pengaruhnya ke jiwa, berupa suara-suara di hati kita yang mengajak ke perbuatan negative. Sementara qalbu (hati) adalah jantung jiwa. Qolbulah yang menentukan baik-buruknya jiwa. Gelap terangnya jiwa.
Jiwa bisa pergi dari jasad manusia, yaitu ketika bermimpi atau out of body experience (pengalaman mati suri). Jiwa memiliki perangkat-perangkat yang menyebabkan manusia dicap sebagai makhluk social, makhluk cerdas (Aqal), dan makhluk spiritual (qolbu). Jiwa yang menanggung semua akibat perbuatan tubuh fisikal dan tubuh dalam.
Jiwa diciptakan sempurna tanpa cacat. Tidak ada yang terlahir sakit jiwa. Jiwa adalah putih bersih ketika dilahirkan, lingkungan dan pengalaman-lah yang membuatnya tetap putih atau kotor.
Jiwa mampu menyimpan semua memori dari semenjak lahir sampai jasad meninggal. Ibarat server yang besar, mampu menyimpan data yang besar pula. Tidak ada yang luput dari server ini, semua tersimpan dengan baik. Baik itu data kejahatan maupun data kebaikan. Berbeda dengan memori otak yang sangatlah terbatas.
Data kejahatan membuat jiwa menjadi redup cahayanya atau bahkan padam sama sekali. Sedangkan data kebaikan membuat jiwa bersinar terang. Dan sinar ini mampu menghalau cahaya gelap. Di akhirat, kelak, data di server ini akan ditampilkan semua. Di dalam system DOS, misalnya kita biasa mengetik DIR, maka semua file akan muncul. Begitu pula dengan jiwa, semua akan ditampilkan sebutir-butirnya dari yang sekecil-kecilnya. Namun, sebenarnya file kejahatannya tidak semuanya akan ditampilkan. Karena ada fungsi Delete File atau Hidden File. Siapa yang bisa melakukan ini? Tentunya Allah. Dia mengampuni siapa yang dikehendakinya.
Sementara ruh adalah prinsip kehidupan manusia. Ruh adalah nafas yang dihembuskan oleh Allah ke dalam manusia dan kembali kepada Allah, kesatuan spiritual dalam manusia. Ruh adalah sifat alami manusia yang ‘immaterial’ yang memungkinkan manusia berkomunikasi dengan Allah.
Ruh adalah suci, ciptaan Allah, sehingga dikategorikan sebagai makhluk. Jadi ruh dalam diri jasad manusia bukanlah Allah itu sendiri, “Maka apabila Aku menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan kedalamnya Ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.“ (QS. Al Hijr [15]:29)
Tidak ada yang namanya ruh jahat, atau pun lainnya. Sesungguhnya ruh itu selalu, mengajak jiwa ke jalan yang lurus, tetapi setan sangat gigih menyeru segala yang dimiliki jiwa agar sesat.
Jadi, antara ruh dan jiwa berbeda. Karena itu, ada istilah trikotomi, yaitu sebuah pandangan yang mengatakan bahwa manusia itu terdiri dari tiga bagian, yaitu tubuh, jiwa dan ruh. Pandangan ini berdasarkan pada pengertian bahwa Allah menciptakan manusia dengan memberikan tiga unsure utama di dalam diri manusia yaitu tubuh, jiwa dan ruh. Sebagaimana juga dalam pandangan para filsuf Yunani, yang memandang bahwa tubuh, jiwa dan tuh adalah satu kesatuan, yang ada dalam manusia yang hidup.
Sementara itu, jumhur ulama berpendapat sebaliknya. Menurut mereka, antara jiwa hanya perbedaan dalam sifat dan bukan dalam zat. Jadi, kedua unsur itu sebenarnya satu.
Menurut Ibnu Qayyim, jiwa itu memiliki tiga pengertian. Pertama, jiwa itu sendiri. Seperti yang terekam dari syair Abu Kharasy berikut ini, “Dia selamat dan jiwanya ada di tulang rahang/tak ada yang selamat kecuali selimut dan sarung pedang.”
Kedua, jiwa bisa diartikan darah. Seperti dalam ungkapan, “Saalat nafsuhu”, maka artinya darah mengalir. Jadi, kata jiwa (nafs) di sini diartikan sebagai darah.
Ketiga, adalah ruh. Seperti dalam firman-Nya, “Keluarkanlah ruh (nafs) kalian.”
Dari pengertian diatas Nampak bahwa jiwa sendiri kadang diartikan sebagai darah. Sedangkan, darah itu sendiri kerapkali disebut ruh. Jadi, antara jiwa dan ruh adalah satu.
Menurut Ibnu Qayyim, darah bisa disebut ruh karena keluarnya darah dalam ukuran yang banyak akan disertai kematian, yang mengharuskan keluarnya jiwa. Hidup pun tidak akan sempurna tanpa keberadaan darah, sebagaimana hidup tidak akan sempurna tanpa keberadaan jiwa. Karena itu, dikatakan dalam syair, “Ia mengalir di ketajaman mata pedang jiwa kita/ia tiada mengalir di selain ketajaman mata pedangnya.”
Menurut Ibnu Qoyyim, ruh tidak diartikan badan, bukan karena kesendiriannya dan tidak pula bersama jiwa. Menurutnya, ruh disebut ruh karena dengan ruh itu ada kehidupan badan, seperti halnya angin yang mendatangkan kehidupan. Disebut an-nafs, boleh jadi karena ia termasuk annfis (sesuatu yang berharga), karena nilai dan kemuliannya, atau boleh jadi karena termasuk tanaffus (hembusan nafas) sesuatu jika napas itu terhembus keluar dan karena banyaknya hembusan yang keluar masuk di dalam badan, sehingga disebut nafas.
Menurut Ibnu Qoyyim, kekuatan yang ada dibadan juga bisa disebut ruh. Karena itu, ada ungkapan, “Ruh yang dapat melihat, ruh yang dapat mendengar, ruh yang dapat mencium. ”Ruh-ruh ini merupakan kekuatan yang dimasukkan dalam badan, yang bisa mati karena kematian badan, yang berbeda dengan ruh yang tidak mati meskipun badan mati, yang tidak bisa binasa seperti kebinasaan badan.
Demikian pandangan berbeda tentang jiwa dan ruh. Apapun pendapat mereka, semuanya bertolak pada kegaiban jiwa dan ruh itu sendiri. Karena itu, sampai kapanpun persoalan ini sulit terungkap. Hanya Allah yang Maha Tahu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar