Selasa, 27 September 2011

Umur Aisyah ketika dinikahi Nabi Muhammad SAW

BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
WAHYU DAN AKAL IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
555. Meluruskan Riwayat Pernikahan St ‘Aisyah RA
Baru-baru ini [22 Desember 2002] diperingati hari ibu. Saya teringat riwayat pernikahan Ummu lMu’miniyn (Ibu para Mu’minin) Sitti ‘Aisyah Radhiaya Lla-hu ‘Anhaa yang perlu diluruskan. Seperti diketahui dalam riwayat-riwayat bahwa St ‘Aisyah RA dinikahkan pada umur 6 tahun dan baru umur 9 tahun serumah dengan Nabi Muhammad SAW. Riwayat inilah yang perlu diluruskan.
Hadits mengenai umur St ‘Aisyah RA tatkala dinikahkan adalah problematis, alias dhaif. Beberapa riwayat yang termaktub dalam buku-buku Hadits berasal hanya satu-satunya dari Hisyam ibn ‘Urwah yang didengarnya sendiri dari ayahnya. Mengherankan mengapa Hisyam saja satu-satunya yang pernah menyuarakan tentang umur pernikahan St ‘Aisyah RA tersebut. Bahkan tidak oleh Abu Hurairah ataupun Malik ibn Anas. Itupun baru diutarkan Hisyam tatkala telah bermukim di Iraq. Hisyam pindah bermukim ke negeri itu dalam umur 71 tahun.
Mengenai Hisyam ini Ya’qub ibn Syaibah berkata: Yang dituturkan oleh Hisyam sangat terpecaya, kecuali yang disebutkannya tatkala ia sudah pindah ke Iraq. Syaibah menambahkan, bahwa Malik ibn Anas menolak penuturan Hisyam yang dilaporkan oleh penduduk Iraq (Tahzib alTahzib, Ibn Hajar alAsqalani, Dar Ihya alTurath alIslami, jilid II, hal.50).
Termatub pula dalam buku tentang sketsa kehidupan para perawi Hadits, bahwa tatkala Hisyam berusia lanjut ingatannya sangat menurun (alMaktabah alAthriyyah, Jilid 4, hal.301).
Alhasil, riwayat umur pernikahan St ‘Aisyah RA yang bersumber dari Hisyam ibn ‘Urwah, tertolak.
Untuk selanjutnya terlebih dahulu dikemukakan peristiwa secara khronologis:
pre 610 Miladiyah (M): zaman Jahiliyah

Senin, 27 Juni 2011

MENENGOK ORANG SAKIT BIKIN SEHAT


MENENGOK ORANG SAKIT BIKIN SEHAT

Tidaklah seorang muslim mengunjungi orang muslim lain yang sedang sakit pada pagi hari melainkan ada 70 ribu malaikat yang bershalawat kepadanya hingga sore hari. Jika ia mengunjunginya pada petang hari, maka ada 70 ribu malaikat yang bershalawat kepadanya hingga pagi hari, dan ia mendapatkan buah di surga.

Sebuah studi dari tim peniliti Kanada, baru-baru ini, menyebutkan bahwa menengok orang sakit bias menaikkan imun (kekebalan) dalam tubuh. Artinya, menengok orang sakit bisa membuat anda sehat.
Dalam penelitian itu diuji dua kelompok. Kelompok pertama diperlihatkan gambar meja, kursi dan perangkat furnitur lain. Sementara kelompok kedua diperlihatkan gambar orang sakit cacar, disentri, bersin-bersin, flu dan penyakit lainnya.
Peneliti mengambil sampel darah partisipan sebelum dan sesudah diperlihatkan gambar-gambar tersebut. Setelah selesai, peneliti kemudian memasukkan bakteri ke dalam darah untuk menguji imunitas dalam merespon bakteri tersebut.

APAKAH JIWA DAN RUH ITU SATU?

APAKAH JIWA DAN RUH ITU SATU?
Banyak yang mengatakan bahwa jiwa dan ruh adalah satu. Namun, ada pula yang membedakan keduanya. Lantas, mana yang benar?

Menurut sebagian ahli hadits, fiqih dan tasawuf, ruh itu bukanlah jiwa. Muqatil bin Sulaiman berkata, “Manusia itu memiliki kehidupan, ruh dan jiwa. Jika ia tidur, maka jiwanya keluar dan ia bisa memikirkan segala hal, namun tidak meninggalkan badan. Yang keluar darinya seperti benang yang panjang dan memiliki sinar, sehingga orang yang bersangkutan bermimpi dengan jiwa yang keluar darinya. Sementara kehidupan dan ruh tetap berada di dalam badan, membolak-balik dan bernafas. Jika dia bergerak, maka jiwa itu secepat kilat kembali kepadanya, lebih cepat dari kedipan mata. Jika Allah hendak mematikannya di dalam tidur, maka Dia memegang jiwa yang keluar itu.”
Lebih lanjut Muqatil mengatakan, “Jika seseorang tidur, maka jiwanya keluar dan naik ke atas. Jika dia bermimpi, maka jiwa itu kembali dan mengabarkan keapda ruh. Karena ruh ini diberitahu, maka dia pun mengetahuinya bahwa dia telah bermimpi begini dan begitu.”
Abu Abdullah bin Mandah berkata, “Kemudian meraka saling berbeda pendapat tentang makrifat ruh dan jiwa. Sebagian orang berpendapat, jiwa itu bersifat liar dan memiliki unsur api dan ruhani. Yang lain berpendapat, ruh itu bersifat kemanusiaan, yang dengan tabiat inilah manusia diuji.”
Golongan lain dari ahli atsar berkata, “Ruh itu bukan jiwa, dan jiwa bukan ruh. Tegaknya jiwa dengan ruh. Jiwa merupakan gambaran hamba (manusia), sedangkan hawa nafsu, syahwat dsan ujian merupakan adonan di dalam jiwa.”
Jiwa adalah unsur batiniah manusia yang tidak dapat dilihat. Atau, ada yang mengartikannya sebagai “badan halus” manusia. Sementara tubuh kita adalah badan kasarnya. Jiwa manusia meliputi beberapa unsure: pikiran, emosi (perasaan) dan kehendak. Dengan pikirannya, manusia dapat berpikir. Dengan perasaannya manusia dapat mengasihi dan dengan kehendaknya, manusia dapat memilih.

Kamis, 23 Juni 2011

Cintailah Cinta Ibarat Air

CINTAILAH CINTA IBARAT AIR

Kau berlari mengejar Angin,
Tak tertangkap hanya hembusan,
Angin itu cepat berlalu,
Waktu tak bisa diputar bukanlah lagu.

Air s'lalu ada disekitarmu,
Meski diabaikan olehmu,
Mengalir tapi pasti,
Jika kita mampu sadari.

Cintailah Cinta Ibarat Air,
Saat haus kita butuh Air,
Air suburkan tanah yang kering,
Hati tak lagi gersang.

Angin tak bisa dipercaya,
Dari waktu ke waktu berbeda,
Angin dan Air berlainan,
Tak ada yang menyatukan.

Orang yang mencintai lebih mengerti, mau mengalah, mau berkorban waktu sesibuk apapun, mau berbagi waktu, berbagi cerita. Jika orang yang dicintai sebaliknya seringkali menuntut, mementingkan diri sendiri, dan tak mau mengalah (menganggap dirinya yang paling benar). Coba periksa ciri-ciri orang yang salah memilih dibawah ini. Apa kamu termasuk golongannya?